INFONAWACITA.COM – 40 persen Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Maluku Utara (Malut) belum memiliki dokter. Ketiadaan dokter ini menganggu optimalisasi pelayanan kesehatan.

Tidak hanya itu, kondisi ini mengakibatkan Puskesmas sulit mendapatkan akreditasi karena persyaratan puskesmas untuk mendapatkan akreditasi harus memiliki sedikitnya sembilan tenaga kesehatan, di antaranya dokter umum, dokter gigi, bidan dan perawat serta apoteker atau asisten apoteker.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinkes Malut Idhar Sidi Umar di Ternate, Rabu (4/1) sok.

“Peran Puskesmas saat ini semakin penting dalam program Jaminan Kesehatan Nasional, puskesmas menjadi tempat pertama masyarakat peserta Jaminan Kesehatan Nasional, baik berupa BPJS maupun Kartu Indonesia Sehat untuk mendapatkan pelayanan,” kata Idhar.

Menurut Idhar Sidi Umar, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasi ketiadaan dokter di puskesmas tersebut, di antaranya memanfaatkan program Kementerian Kesehatan melalui program pengangkatan tenaga dokter pegawai tidak tetap (PTT).

Idhar berharap adanya pembukaan Fakultas Kedokteran di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate mulai tahun akademik 2016/2017 juga diharapkan menjadi jalan keluar mengatasi keterbatasan dokter di Malut, khususnya yang akan ditempatkan pada puskesmas di kepulauan dan wilayah pelosok. (ANT/HG)