Berbekal Sepeda Butut, Siswi Madrasah ini Sukses Menorehkan Prestasi

INFONAWACITA.COM – Menorehkan prestasi tidak harus didukung dengan fasilitas yang lengkap. Banyak orang yang berhasil menggapai prestasi dan kesuksesan meski fasilitas minim. Berbagai keterbatasan tidak menjadi hambatan, justru dijadikan pelecut semangat untuk membuktikan bahwa fasilitas berlebih bukan segalanya dalam menggapai prestasi.

Hal itu dibuktikan Okti Sulistian Sari, siswi MAN Yogyakarta 1. Sederet prestasi membanggakan sudah dia koleksi, seperti juara I Karate tingkat DIY dan juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat DIY di Universitas Islam Indonesia (UII).

Sebelumnya, saat masih di MTsN Bantul Kota, Okti sudah mengoleksi berbagai trofi dan gelar juara seperti  juara III lomba Pidato Bahasa Inggris tingkat DIY, juara III Karate tingkat DIY, juara II lomba Pidato Bahasa Arab tingkat DIY, juara II LKTI tingkat DIY, dan juara harapan I Karate tingkat regional Jawa-Bali.

Okti dilahirkan dari keluarga yang bisa dibilang pas-pasan. Saat masih duduk di MTsN bapaknya berprofesi sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tidak menentu, sedangkan ibunya membuka warung kecil-kecilan di rumahnya. Namun sekarang bapaknya sudah tidak lagi menjadi pekerja bangunan . “Sehari-hari sekarang Bapak membantu ibu menjaga warung,” papar sisiwi Kelas X IPS 2 MAN Yogyakarta 1, Senin (9/1), seperti dikutip situs kemenag.go.id.

Saat ini Okti tinggal bersama neneknya yang berjarak sekitar 15 km dari sekolahnya di daerah Magelang. Jarak itu dinilai menjadi alternatif terdekat dibanding harus tinggal di rumahnya bersama orang tua di Bantul.

 

Tidak Kuat Bayar

Setiap hari Okti mengayuh sepeda membelah Kabupaten Sleman dari Magelang menuju Kota Yogyakarta dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Bermodal semangat merengkuh pendidikan setinggi-tingginya, mengayuh sepeda selama 90 menit setiap hari dia lalui dengan gembira.

Berbagai keterbatasan itu justru menempa pribadi Okti menjadi sosok yang tangguh dan selalu bersemangat menjalani hari-harinya bersama sepeda yang sudah butut dan karatan.

Sebelum tinggal bersama neneknya, Okti sempat tinggal di pesantren yang lokasinya lebih dekat ke sekolahnya. Namun tinggal di pesantren membutuhkan biaya asrama dan orangtuanya tidak mampu membiayai kebutuhan untuk tinggal di pesantren tersebut. Akhirnya dia dengan rela memilih keluar dari asrama dan tinggal di rumah neneknya.

Kepala MAN Yogyakarta 1, Wiranto, menilai Okti adalah sosok yang mempunyai semangat luar biasa dalam belajar dan percaya diri. Diceritakan Wiranto, sepeda yang sehari-hari dipakai Okti bisa dikatakan jauh dari kenyamanan. Bodi sepeda sudah banyak berkarat, dudukan sadel sobek dan banyak tali yang mengikat bagian-bagian sepeda untuk menggantikan mur-baut yang sudah lepas.

Melihat kondisi sepeda yang sudah kurang layak itu,  pihak madrasah berinisiatif memberikan hadiah sepeda baru untuk Okti. Sukaria pun terpancar dari Okti ketika menerima hasiah sepeda yang tidak dia duga itu. “Saya senang sekali, sepeda  ini sangat bermanfaat bagi saya,” tutur Okti saat menerima hadiah sepeda.

Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag DIY, Edhie Gunawan berharap Okti terus mengukir prestasi sehingga bisa menjadi inspirasi siswa lainnya. Dari sosok Okti terbukti prestasi dapat diraih oleh siapa saja. Fasilitas melimpah bukan segalanya untuk meraih prestasi. (PSD)