INFONAWACITA.COM – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memprediksi Indonesia setiap tahunnya kehilangan triliunan rupiah akibat penjualan satwa liar hingga kerusakan ekosistem hutan.

“Kalau kerugian ekonomi kita memang ada beberapa versi yang menghitung, kalau kita lihat nilai satuan secara materil memang mencapai Rp. 9 Triliun di tahun 2013, tapi kan itu analisanya masih terlalu singkat,” kata Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian KLHK Istanto pada Rabu (11/1).

Menurut Istanto kerusakan ekosistem akibat rusaknya rantai makanan merupakan kerugian yang tidak ternilai.

“Misal begini Tringgiling makannya semut, nah jika tringgiling musnah maka populasi semut akan tidak terkendali, akibatnya tentu saja terjadi peningkatan jumlah hama, itu yang terpenting,” katanya.

Selain itu Istanto juga menjelaskan bahwa kerugian Rp. 9 Triliun masih bisa bervariatif, karena nilai satwa liar terkadang tidak bisa di prediksi. “Nilai dari satwa liarkan tidak tetap, Jalak Bali misalnya kalo yang sudah terlatih dan menang lomba harganya bisa sampai 150 juta sampai, jadi sangat relatif,” katanya.

Maka dari itu lanjut Istanto dengan jumlah yang tidak dapat di ukur dengan pasti tersebut tidak heran bahwa kejahatan terhadap satwa liar masuk kedalam posisi 4 Kejahatan yang peredaran uangnya sangat besar. “Jadi ini tidak bisa di ukur berapa nilai totalnya, tapi kita harus hitung pula dari dampaknya,” katanya.

Tidak bisa dianggap kecil kerugian yang ditimbulkan dalam kejahatan terhadap satwa liar membuat KLHK kini memiliki unit khusus terhadap kejahatan pada satwa liar. “Makanya sekarang kita punya unit khusus kejahatan pada satwa liar, didalamnya ada intelejen-intelejen menyelidiki penjualan satwa liar dan sudah banyak kasus yang masuk P21 dan di tangani sampai selesai,” kata Istanto. (DS/HG)