INFONAWACITA.COM – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan pencopotan Komandan Distrik Militer (Dandim) 0603 Lebak, Letkol (Czi) Ubaidillah dari jabatannya karena menyalahi prosedur yang berlaku di TNI.

Menurut Gatot, prosedur yang abaikan dilakukan adalah Koramil harus izin kepada Dandim sebagai atasannya kemudian ke Komandan Korem (Dandrem). (baca: Gelar Kegiatan Bersama FPI, Jabatan Dandim Lebak Dicopot )

“Pencopotan Dandim Lebak, murni karena kesalahan prosedur yakni Dandim harus melaporkan kepada pimpinan,” kata Gatot, di Mabes TNI Cilangkap, Jakart Timur, Rabu (11/1).

Pelatihan bela negara, kata Gatot, adalah hak semua warga negara dan tidak ada salahnya melibatkan ormas tertentu. Menurutnya pelatihan bela negara sudah ada kurikulumnya yang dicanangkan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan).

“Memang bela negara hak semua warga negara, tapi prosedur harus benar. Tidak, nanti Koramil ajukan sendiri tanpa laporan. Karena sudah ada kurikulumnya dan apa saja yang harus dicapai. Tidak sembarangan seperti itu,” kata Gatot. (baca: Anggota Komisi I DPR RI Apresiasi Pencopotan Dandim Lebak )

Sebelumnya, Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi, Kol Arh M Desi Ariyanto mengumumkan pencopotan Dandim 0603 Lebak Letkol (Czi) Ubaidillah menyusul latihan bela negara bersama Front Pembela Islam (FPI) dan diikuti salah seorang pimpinan FPI di Lebak, Banten.

Menurut Desi Ariyanto, kegiatan bela negara yang diadakan Kodim 0603 bukan kali pertama, namun kegiatan sebelumnya dilakukan sesuai prosedur. “Latihan bela negara macam-macam bentuknya. Yang kemarin berisi  ceramah tentang hukum, wawasan kebangsaan yang diselingi outbond, bukan latihan ala militer,” kata Desi Ariyanto.

Pencopotan Dandim Banten ini juga sempat ditanggapi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menyebut kegiatan tersebut butuh pertimbangan matang mengingat posisi FPI kontroversial di masyarakat. (baca: Ryamizard: Pemerintah Bukan Larang FPI Bela Negara, Tapi )

Ryamizard mengaku pihaknya sedang melakukan penyelidikan pelatihan bela negara itu mengingat FPI disinyalir anti Pancasila. “Itu baru saya selidiki. Kan seharusnya izin saya dulu, apalagi ini kan berkaitan dengan hal-hal yang luar biasa. Semuanya bisa saja bela negara, tapi yang tepatlah,” kata Ryamizard. (AK/ANT)