INFONAWACITA.COM – Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Yunus Saefulhak, menegaskan bahwa eksplorasi panas bumi di WKP Gunung Ciremai tidak akan menimbulkan bencana seperti di Sumur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur.

Karena menurut Yunus eksplorasi panas bumi hanya mengeluarkan tekanan yang tidak terlampau tinggi berbeda dengan eksplorasi minyak dan gas bumi.

“Mereka yang menolak karena mereka melihat film-film mengenai pemanfaatan panas bumi seperti di Mataloko NTT yang kondisinya jauh berbeda dengan di Ciremai. Seperti lumpur panas yang keluar mirip lapindo,” ujar Yunus di Kuningan, Selasa (10/1).

Yunus menjelaskan bahwa, lumpur panas, sulfur kemudian ada uap atau asap dan bau belerang itu adalah tanda-tandanya manifestasi panas bumi jadi bukan mengindikasikan jika dibor akan keluar seperti lumpur lapindo. Sangat berbeda dengan lapindo karena lapindo itukan eksplorasinya minyak bumi sedangkan yang akan dilakukan di Gunung Ciremai adalah eksplorasi panas bumi.

“Kalau migas itu adanya dibatuan sedimen yang lapisannya lemah sementara pressure nya sangat tinggi sementara kalau di geothermal sebaliknya batuannya beku, keras dan pressure-nya rendah yakni sekitar 20 bar, jadi pressure-nya tidak terlalu besar tapi lapisan yang kuat,”jelas Yunus.

Untuk mengedukasi masyarakat terkait pemanfaatan panas bumi di Gunung Ciremai, pemerintah telah melakukan sosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat di sekitar WKP Gunung Ciremai. “Kemaren sudah dilakukan beberapa kali sosialisasi, pertama kali dengan aparat pemerintah daerah waktu itu bulan November terus dilanjut bulan Desember dengan masyarakat umum dan tokoh-tokoh masyarakat,” ujar Yunus.

Yunus menambahkan,“Kalau saya lihat sih sebenaranya tidak semua menolak, karena ada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setelah acara sosialisasi itu datang ke kantor kami meminta untuk segera melaksanakan proses lelang WK Gunung Ciremai”. (HG)