INFONAWACITA.COM – Kepolisian sedang mendata peredaran tembakau gorilla yang booming di kalangan masyarakat sebagai pengganti ganja. Tembakau ini kembali booming awal tahun 2017, setelah pilot maskapai Citilink, Tekad Purna Agniamartanto dikabarkan mabuk akibat tembakau gorilla yang sempat viral di media sosial (medsos).

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Pol Martinus mengatakan pendataan tersebut untuk mengantisipasi kian masifnya peredaran tembakau gorilla yang berpotensi disalahgunakan.

“Penyebarannya sudah masif. Dari pemetaan Mabes Polri, tembakau ini beredar luas di Bali, Sumatera Utara dan Jakarta,” kata Martinus di Mabes Polri, Rabu (11/1).

Menurut Martinus, Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Mei 2015 lalu sudah mengumumkan tembakau gorilla ini sebagai jenis narkotika baru. Namun secara regulasi, kata Martinus, baru masuk dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 tahun 2017 yang saat ini sedang diproses di Kementerian Hukum dan HAM.

“Setelah regulasinya terbit, kepolisian akan melakukan penertiban peredaran tembakau gorilla ini,” kata Martinus.

Sebelumnya, Humas BNN Slamet Pribadi menjelaskan tembakau gorilla bukanlah golongan narkotika alami seperti ganja. Para pengedarnya, kata Slamet, menyelundupkan senyawa sintetis itu ke Indonesia dan menyemprotkan ke tembakau biasa saat membuatnya.

“Tembakau Gorilla ini ganja sintetis yang mengadung zat canabinoid, AB-Chminata,” kata Slamet Pribadi.

Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Kesehatan Barlian mengatakan legalitas tembakau gorilla baru diatur pada tahun 2017 dan masuk kategori narkotika.

“Tembakau gorilla sudah masuk regulasi yang dilarang dalam Permenkes Nomor 2 tahun 2017, tapi dalam Permenkes sebutannya bukan tembakau gorilla tapi yang dicantumkan adalah nama bahan kimia,” kata Barlian. (GR/AK)