5 Fakta Mengerikan Penjara Kasus Narkoba di Filipina

Kondisi di penjara kasus Narkoba, Filipina (Foto: Getty Images/AFP/N.Celis)

INFONAWACITA.COM – Presiden Filipina Rodrigo Duterte bisa jadi momok paling mengerikan bagi para bandar dan pengedar Narkoba di Filipina. Sikap keras Duterte memerangi Narkoba bukan omong kosong, yang di sisi lain banyak dikecam dunia karena aparat boleh menembak mati bandar dan pengedar Narkoba.

Presiden Duterte tidak cuma membidik pengedar saja, ia bahkan memerintahkan kepolisian untuk menembak mati pengguna Narkoba. Hasilnya 114.833 pecandu melaporkan diri ke kepolisian untuk menjalani proses rehabilitasi. Namun lantaran kekuarangan fasilitas, sebagian diinapkan di berbagai penjara di dalam negeri.

Saking banyaknya mereka yang melaporkan diri maupun tertangkap karena kasus Narkoba, penjara pun padat sesak oleh penghuni. Dan inilah fakta-fakta penjara bagi mereka yang terlibat kasus Narkoba, yang mungkin akan membuat mereka kapok setelah keluar dari sana, dilansir dari Deustche Welle, yang disarikan dari berbagai sumber:

Foto: Getty Images/AFP/N.Celis

Sesak dan Sempit : Kondisi penjara di Filipina penuh sesak dan sempit saking banyaknya penghuni. Potret paling muram perang narkoba di Filipina bisa disimak di Lembaga Pemasyarakatan Quezon City, di dekat Manila. Penjara yang dibangun enam dekade silam itu sedianya cuma dibuat untuk menampung 800 narapidana. Tapi sejak Duterte berkuasa jumlah penghuni rumah tahanan itu berlipat ganda menjadi 3.800 narapidana.

 

Foto: Getty Images/AFP/N.Celis

Beratap Langit: Para narapidana rela tidur di lapangan basket di tengah penjara. Ini karena kondisi di dalam sangat pengap, panas, sesak dan sempit. Kondisi ini akan semakin parah kalau hujan turun.

 

Foto: Getty Images/AFP/N.Celis

Satu Toilet untuk 130 Tahanan: Sebuah ruang sel di penjara Quezon City sebenarnya cuma mampu menampung 20 narapidana. Tapi lantaran situasi saat ini, sipir memaksa hingga 120 tahanan berjejalan di dalam satu sel. Lebih parahnya, satu toilet untuk 130 tahanan. Pemerintah hanya menyediakan anggaran makanan senilai 50 Peso atau Rp 14.000 dan dana obat-obatan sebesar Rp 1.400 per hari untuk setiap tahanan.

 

Foto: Getty Images/AFP/N.Celis

Sarang Penyakit: Buruknya situasi sanitasi di penjara Quezon City sering berujung pada munculnya wabah penyakit. Selain itu kesaksian narapidana menyebut tawuran antara tahanan menjadi hal lumrah lantaran kondisi yang sempit dan berdesakan.

 

Foto: Getty Images/AFP/N.Celis

Cara Cepat Jadi Gila: Tahanan dibiarkan tidur berdesakan di atas lapangan. “Kebanyakan menjadi gila,” kata Mario Dimaculangan, seorang narapidana bangkotan kepada kantor berita AFP. “Mereka tidak lagi bisa berpikir jernih. Penjara ini sudah membludak. Bergerak sedikit saja kamu menyenggol orang lain,” tuturnya. Dimaculangan sudah mendekam di penjara Quezon City sejak tahun 2001.(AR)