Patut Ditiru, Desa Solodiran Tidak Pernah Kekurangan Darah

Warga menyumbang darah di Gedung Serbaguna Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo, Minggu (9/7). (Espos/JIBI/Taufiq Sidik Prakoso) Warga menyumbang darah di Gedung Serbaguna Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo, Minggu (9/7). (Foto: Solopos.com)

INFONAWACITA.COM – Salah satu desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah memberikan contoh yang bisa ditiru desa lainnya di Indonesia. Pasalnya desa ini membentuk sebuah kelompok bank darah. Semenjak ada kelompok Bank Darah, Desa Solodiran tidak pernah kekurangan stok darah.

Menurut Kepala Desa Solodiran Ariyanta Sigit Suwanta menyebutkan jika bank darah yang dibentuk warga sebelumnya hanya kelompok pendonor darah aktif dalam satu RW. Akan tetapi karena memberikan manfaat lebih, maka bank darah tersebut pun diperluas menjadi tingkat desa.

“Ada beberapa RW yang sudah membentuk. Kemudian mulai kali ini kami perlebar hingga tingkat desa,” kata Ariyanta seperti dilansir dari Solopos pada Senin (10/7).

250 Warga Bergabung

Saat ini kata Ariyanta sudah 250 warga yang bergabung dengan Bank Darah tersebut. Mereka terdiri atas para sukarelawan, anggota Karang Taruna, serta warga Solodiran. Salah satu kegiatan yang dilakukan sukarelawan tersebut yakni pendonoran darah massal setiap empat bulan sekali.

Tujuan pembentukan kelompok tersebut untuk mengajak warga peduli dengan kesehatan mereka salah satunya melalui aksi sumbang darah.

“Kami lakukan kegiatan rutin menyumbangkan darah. Harapannya semakin banyak warga yang ikut menjadi donor aktif. Yang utama kami bentuk kesadaran masyarakat dulu. Ketika masyarakat sadar, nanti enak menggerakkan warga,” urai dia.

Tidak Khawatir Kehabisan Stok Darah

Semenjak aktif dalam mendonorkan darah sejak 2011 kini Desa Solodiran tidak lagi perlu mengkhawatirkan kebutuhan stok darah khususnya bagi para ibu hamil yang mau melahirkan.

“Sesuai aturannya memang sebelum melahirkan itu ibu hamil diminta menyertakan tiga warga yang siap menyumbangkan darah untuk antisipasi ketika terjadi pendarahan. Selama ini mencari donor itu yang sulit dilakukan para ibu hamil. Kalau sudah mentok, ya sedapatnya. Selain untuk ibu hamil, ini juga untuk antisipasi masyarakat khususnya Solodiran jika sewaktu-waktu ada yang membutuhkan transfusi darah,” kata Bidan Desa Solodiran, Nana.

Karena keaktifan warga dalam donor darah tersebut beberapa pihak luar pun tertarik melakukan kerja sama penyuluhan di desa Solodiran. Misalnya saja pada pendonoran darah yang dilakukan hari Minggu (9/7) lalu, beberapa mahasiswa dari Stikes Guna Bangsa Yogyakarta serta PMI Klaten melakukan penyulusah soal HIV/AIDS serta narkoba di desa tersebut. (*/DS/yi)